بسم الله الرحمن الرحيم

Desember 28, 2009

Hakikat Hidup


Tak ada orang yang ingin hidupnya tidak bahagia. Semua orang ingin bahagia. Namun hanya sedikit yang mengerti arti bahagia yang sesungguhnya.
Tak ada orang yang ingin hidupnya tidak bahagia. Semua orang ingin bahagia. Namun hanya sedikit yang mengerti arti bahagia yang sesungguhnya.

Hidup bahagia merupakan idaman setiap orang, bahkan menjadi simbol keberhasilan sebuah kehidupan. Tidak sedikit manusia yang mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Menggantungkan cita-cita menjulang setinggi langit dengan puncak tujuan teresebut adalah bagaimana hidup bahagia.

Hidup bahagia merupakan cita-cita tertinggi setiap orang baik yang mukmin atau yang kafir kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Apabila kebahagian itu terletak pada harta benda yang bertumpuk-tumpuk, maka mereka telah mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Akan tetapi tidak dia dapati dan sia-sia pengorbanannya. Apabila kebahagian itu terletak pada ketinggian pangkat dan jabatan, maka mereka telah siap mengorbankan apa saja yang dituntutnya, begitu juga teryata mereka tidak mendapatkannya. Apabila kebahagian itu terletak pada ketenaran nama, maka mereka telah berusaha untuk meraihnya dengan apapun juga dan mereka tidak dapati. Demikianlah gambaran cita-cita hidup ingin kebahagiaan.

Apakah tercela orang-orang yang menginginkan demikian? Apakah salah bila seseorang bercita-cita untuk bahagia dalam hidup? Dan lalu apakah hakikat hidup itu?

Berikut ini audio yang membahas tentang hakikat hidup seornag Muslim.
Silahkan Download dengan syarat bukan untuk tujuan komersial.

01.Hakekat Hidup
02.Taqwa
03.Kisah Taubat Ka'b bin Malik
04.Bertaubatlah!!
05.Bertaubatlah!!
06.Bertaubatlah!!

Desember 24, 2009

Sepercik cahaya iman dari tetesaan Ilmu syar'i

Penulis : admin ahlussunnah Muna

Dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an, Allah ta’ala menganjurkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya. Allah ta’ala juga menjadikan agama terakhir ini sebagai risalah ilmu, pengetahuan, pemikiran, perenungan, dan risalah yang mengangkat kedudukan orang yang berilmu.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman (Artinya),
”Niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengangakat orang- orang yang beriman diantara kalian dan orang- orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS. Mujadilah : 11)
Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata,” Allah Subhanahu wa ta’ala mengangkat orang- orang yang diberi ilmu dikalangan orang- orang yang beriman beberapa derajat diatas orang- orang yang tidak diberi ilmu.”(Dalam Ad DurrulMantsur : 4/28)

Karena sebab inilah –dan juga sebab lainnya- ayat yang pertama kali turun dan disampaikan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah ayat yang menjelaskan keutamaan pena dan ilmu serta menjelaskan keberadaan ilmu sebagai nikmat yang amat besar yang di anugerahkan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada umat ini.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman(Artinya),
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq :1-5)

Dan banyak pula hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan keutamaan ilmu.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Jika ada suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah Subhanahu wa ta’ala. mereka mengambil dan mempelajari kitabullah diantara mereka,niscaya akan diturunkan ketenangan kepada mereka, para malaikat akan menaungi mereka, mereka akan diliputi rahmat, dan Allah Subhanahu wa ta’ala akan menyebut mereka dikalangan makhluk yang ada di sisi-Nya, dan barang siapa yang dilambatkan amalannya, maka ia tidak dipercepat oleh nasabnya.”(HR.Muslim)

Riwayat yang menerangkan keutamaan ilmu banyak sekali, namun ilmu yang dimaksud adalah ilmu syari’at yang mengajarkan apa saja yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf tentang urusan agamanya, baik berupa ibadah maupun mu’amalah.

Perkara menuntut ilmu dan mempelajari ilmu agama adalah perkara yang agung. Oleh karena itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ يُرِيْدِاللَّهُ بِهِ خًيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
"barang siapa yang Allah Subhanahu wa ta’ala kehendaki padanya kebaikan maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan pahamkan dia dalam agamanya.”(HR.Bukhari)

Hadits yang agung ini memberi petunjuk pada kita bahwa mempelajari ilmu agama adalah salah satu tanda bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala menginginkan kebaikan dirinya. Dari hadits ini dipahami pula bahwa orang yang tidak belajar ilmu agama maka dia telah dicampakkan dan tidak dikehendaki kebaikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka hendaknya setiap hamba yang menginginkan kebaikan mempunyai tekad yang kuat dan bersungguh- sungguh dalam memperolehnya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,”terhadap suatu kebaikan, bersemangatlah memperoleh apa yang bermamfaat bagimu serta minta tolonglah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan janganlah lemah.”(HR.Muslim)

Betapa indahnya nasihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya untuk bersungguh- sungguh mempelajari agama ini. Akankah kita abaikan nasihat yang amat berharga ini?ataukah memang Qolbu kita telah ditutupi oleh dosa dan kemaksiatan sehingga agama ini dijadikan sebagai label atau status dalam kehidupannya tampa ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menyilami lautan ilmu agama ini? Munkinkah tiap-tiap dari kita memikirkan agama ini hanya dalam sisa- sisa waktu kita saja??
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi renungan bagi kita sejauh mana kiprah kita di dalam agama ini. Hendaknya setiap diantara kita yang mengaku beragama islam memberikan motivasi pada setiap pribadi serta mengajak orang lain dalam mencari dan berkosentrasi dengan ilmu, bersabar, dan meneguhkan kesabaran dalam mencarinya.

Ketika menjelang wafat, Mu’adz Radhiallahu ‘anhu (dalam sebuah riwayat) mewasiatkan kepada orang- orang di sekitarnya untuk mencari ilmu seraya berkata, “sesungguhnya ilmu dan iman memiliki kedudukan. Barang siapa yang menginginkan, maka dia akan mendapat keduanya.”

Maksudnya, kedudukan keduanya sangat agung dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . akan tetapi, pada masa kita sekarang ini, di saat sangat sedikit ilmu dan ulama, telah muncul kelompok- kelompok yang mengenakan pakaian ulama dan mengaku sebagai pembawa bendera ilmu namun menebar racun di kalangan umat sehingga terjadilah kekacauan yang dapat kita saksikan dalam realita kehidupan kaum musliimin.

Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” sesungguhnya Allahtidaklah mencabut ilmu dengan serta merta dicabut dari Qolbu manusia. Namun Allah mencabutnya dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak tersisa seorang ulamapun, manusia akan mengambil pimpinan- pimpinan yang bodoh. Lalu pimpinan- pimpinan yang bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tampa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dalam shahih-nya)

Maka hal tersebut menjadi peringatan bagi kita akan pentingnya ilmu dalam berucap dan melakukan amalan dan anjuran untuk melakukan dengan ilmu .
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman(Artinya),
”dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggung jawabnya”.(QS.Al-Isra : 36)

Dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang ia tidak mencari kepastian apa yang ada di dalamnya, maka disebabkan hal itu ia dilemparkan kedalam neraka sejauh antara timur dan barat”. (HR. Bukhari- Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu)

Inilah perkara yang sesungguhnya ditakutkan. Orang- orang bodoh (yang tidak berilmu) tampil untuk berfatwa dan mengajar, sehingga merekapun sesat dan menyesatkan. Maka hal demikian menjadi pendorong bagi kita untuk maju dan bersungguh- sungguh mencari ilmu, terus- menerus belajar dan bersegera melakukannya, karena kebutuhan kita yang sangat terhadap ilmu serta untuk menutup celah yang digunakan oleh orang- orang yang mengatakan bahwa tidak tersisa seorang pun yang berilmu. Sehingga walaupun ilmu berkurang dan sebagian besar ulama wafat, namun alhamdulillah akan senantiasa ada sekelompok orang yang berada diatas kebenaran dan ditolong oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam ,
“Akan senantiasa ada sekolompok umatku yang berada di atas kebenaran dan mereka tertolong. Tidak akan menyusahkan mereka orang- orang yang mnyelisihi mereka dan orang- orang yang meninggalkan mereka, sampai datang keputusan Allah (hari kiamat).”

Seandainya seorang penuntut ilmu tidak dihormati di tengah- tengah manusia, hal tersebut tidak memberi madharat (kerugian) baginya, karena dia menuntut ilmu tidak untuk mendapatkan penghormatan. Dan menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya dan untuk mengeluarkan manusia dari kegelepan menuju kepada cahaya ilmu. Jika mereka menerima dan mengangkat kedudukannya, maka alhamdulillah (segala puji milik Allah). Dan jika tidak, dia tetap berada dalam kebaikan walaupun seandainya mereka membunuh dan menghinakannya, karena dia memiliki teladan pada diri para rasul dan pada diri penutup para nabi yaitu Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam . karena sesungguhnya seorang hamba yang menolong syari’at-Nya, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan menolongnya.

Syaikh bin Baz rahimahullahu berkata, “pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala bisa diperoleh dengan mengikuti syari’at-Nya dan bersabar dalam menjalankannya”.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
“wahai orang- orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah,niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”(QS.Muhammad : 7)

Demikianlah fakta yang pasti terjadi. Lantaran kekokohan iman, kebersihan akidah, ketulusan beramal shalih. Sepeti halnya bersungguh- sungguh dalam mencari ilmu. Allah Subhanahu wa ta’ala menampakkan janjinya.

Begitu terasa nikmat orang- orang yang bersungguh- sungguh dalam mempelajari agamanya. Jika semangat yang ada pada diri ini dibiarkan mengalir ketika mencari ilmu kepada para ahlinya, maka akan menuai amalan syar’i. Maka hendaklah setiap Muslim yang takut akan adzab Allah Subhanahu wa ta’ala memperhatikan ilmu yang ada pada dirinya sebelum ia berucap dan beramal.

Wahai saudaraku!!
Ini merupakan peringatan bagi kita untuk berhati- hati terhadap lisan yang tidak di dasari ilmu. Dan hendaknya ilmu tersebut membuahkan amalan sesuai dengan bimbingan syari’at

Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu berkata,” belajarlah, kemudian siapa yang telah mengetahui ilmu, hendaklah ia mengamalkannya.” (dalam Iqtidha’ Al ‘Ilmi Al Amal :11)
Salman Radhiallahu ‘anhu berkata,”jika ilmu telah tampak, sedangkan amalan telah tersimpan, lisan- lian dan hati telah berselisih, dan orang- orang telah memutus hubungan kekeluargaannya, maka saat itulah Allah Subhanahu wa ta’ala melaknat mereka, yaitu membuat mereka tuli, buta, dan bisu.” (dalam Az-Zuhd : 931)

Tidak mengamalkan ilmu menjadi sebab tidak bermamfaatnya ilmu tersebut. Sebaliknya mengamalkan ilmu merupakan salah satu sebab paling utama yang membantu sampainya hikmah ke dalam hati secara langsung. Serta begitu rendahnya kedudukan orang- orang yang tidak mengamalkan ilmunya.
‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu berkata,” wahai para pembawa ilmu, amalkanlah ilmu. Sesungguhnya yang dinamakan orang ‘alim adalah orang yang mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui dan amalnya sesuai dengan ilmunya. Nanti akan ada suatu kaum yang membawa ilmu, tetapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka. Batinnya berbeda dengan lahirnya dan amalnya tidak sesuai dengan ilmunya. Mereka duduk melingkar berkelompok- kelompok dan saling membanggakan satu dengan yang lainnya sampai- sampai ada di antara mereka yang marah kepada teman duduknya ketika temannya itu duduk bermajelis dengan orang lain dan meninggalkan dirinya. Amalan- amalan mereka di majelis- majelis itu tidak akan bisa naik menuju Allah Subhanahu wa ta’ala". (Diriwayatkan Ibnu ‘Abdil-Barr).

Merupakan suatu kenikmatan yang besar pada seorang hamba yang bersungguh-sungguh menyisihkan waktunya untuk mempelajari syari'at Allah Subhanahu wa ta’ala serta mengagungkan ilmu dalam qolbunya sehingga membuahkan amalan syar'i yang di cintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.


Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memilih kita sebagai hamba-hamba yang dicintai-nya dan mengkohkan diri ini diatas ilmu yang syar'i serta berusaha mengamalkan ilmu yang kita miliki.

Wallahu a'lam bish showab.


Desember 21, 2009

BULAN MUHARRAM BUKAN BULAN SIAL

Dari : Tim Buletin Al-Ilmu Jember

“Bulan Muharram telah tiba, jangan mengadakan hajatan pada bulan ini, nanti bisa sial.” Begitulah kata sebagian sebagian orang di negeri ini. Ketika hendak mengadakan hajatan, mereka memilih hari/bulan yang dianggap sebagai hari/bulan baik yang bisa mendatangkan keselamatan atau barakah. Dan sebaliknya, mereka menghindari hari/bulan yang dianggap sebagai hari-hari buruk yang bisa mendatangkan kesialan atau bencana. Seperti bulan Muharram (Suro) yang sudah memasyarakat sebagai bulan pantangan untuk keperluan hajatan. Bahkan kebanyakan mereka meyakininya sebagai prinsip dari agama Islam. Apakah memang benar hal ini disyariatkan atau justru dilarang oleh agama?
Maka simaklah kajian kali ini, dengan penuh tawadhu’ untuk senantiasa menerima kebenaran yang datang dari Al Qur’an dan As Sunnah sesuai yang telah dipahami oleh para sahabat Rasulullah ?

Apa Dasar Mereka Menentukan Bulan Suro Sebagai Pantangan Untuk Hajatan?

Kebanyakan mereka sebatas ikut-ikutan (mengekor) sesuai tradisi yang biasa berjalan di suatu tempat. Ketika ditanyakan kepada mereka, “Mengapa anda berkeyakinan seperti ini ?” Niscaya mereka akan menjawab bahwa ini adalah keyakinan para pendahulu atau sesepuh yang terus menerus diwariskan kepada generasi setelahnya. Sehingga tidak jarang kita dapati generasi muda muslim nurut saja dengan “apa kata orang tua”, demikianlah kenyataannya.
Para pembaca sekalian, dalil “apa kata orang tua”, bukanlah jawaban ilmiah yang pantas dari seorang muslim yang mencari kebenaran. Apalagi permasalahan ini menyangkut baik dan buruknya aqidah seseorang. Maka permasahan ini harus didudukkan dengan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah, benarkah atau justru dilarang oleh agama?
Sikap selalu mengekor dengan apa kata orang tua dan tidak memperdulikan dalil-dalil syar’i, merupakan perbuatan yang tercela. Karena sikap ini menyerupai sikap orang-orang Quraisy ketika diseru oleh Rasulullah ? untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa kata mereka? (artinya):
“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (nenek moyang) kami menganut suatu agama (bukan agama yang engkau bawa –pent), dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (Az Zukhruf: 22)
Jawaban seperti ini juga mirip dengan apa yang dikatakan oleh kaum Nabi Ibrahim ? ketika mereka diseru untuk meninggalkan peribadatan kepada selain Allah.
“Kami dapati bapak-bapak kami berbuat demikian (yakni beribadah kepada berhala, pen).” (Asy Syu’ara’: 74)
Demikian juga Fir’aun dan kaumnya, mengapa mereka ditenggelamkan di lautan? Ya, mereka enggan untuk menerima seruan Nabiyullah Musa, mereka mengatakan:
“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya …” (Yunus: 78)
Kaum ‘Aad yang telah Allah ? binasakan juga mengatakan sama. Ketika Nabi Hud ? menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah dan meninggalkan kesyirikan, mereka mengatakan:
“Apakah kamu datang kepada kami, agar kami menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?” (Al A’raf: 70)
Apa pula yang dikatakan oleh kaum Tsamud dan kaum Madyan kepada nabi mereka, nabi Shalih dan nabi Syu’aib?
Mereka berkata: “Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?…” (Hud: 62)
“Wahai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kami agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami …” (Hud: 87)
Demikianlah, setiap rasul yang Allah utus, mendapatkan penentangan dari kaumnya, dengan alasan bahwa apa yang mereka yakini merupakan keyakinan nenek moyang mereka.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah. Mereka menjawab: (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Al Baqarah: 170)

Lihatlah, wahai pembaca sekalian, mereka menjadikan perbuatan yang dilakukan oleh para pendahulu mereka sebagai dasar dan alasan untuk beramal, padahal telah nampak bukti-bukti kebatilan yang ada pada mereka.
“(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al Baqarah: 170)
Agama Islam yang datang sebagai petunjuk dan rahmat bagi semesta alam, telah mengajarkan kepada umatnya agar mereka senantiasa mengikuti dan mengamalkan agama ini di atas bimbingan Allah ? dan Rasul-Nya ?. Allah berfirman (artinya):
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (Al A’raf: 3)

Sudah Ada Sejak Zaman Jahiliyyah
Mengapa sebagian kaum muslimin enggan untuk mengadakan hajatan (walimah, dan sebagainya) pada bulan Muharram atau bulan-bulan tertentu lainnya?
Ya, karena mereka menganggap bahwa bulan-bulan tersebut bisa mendatangkan bencana atau musibah kepada orang yang berani mengadakan hajatan pada bulan tersebut, Subhanallah. Keyakinan seperti ini biasa disebut dengan Tathayyur (????????) atau Thiyarah (???????), yakni suatu anggapan bahwa suatu keberuntungan atau kesialan itu didasarkan pada kejadian tertentu, waktu, atau tempat tertentu.
Misalnya seseorang hendak pergi berjualan, namun di tengah jalan dia melihat kecelakaan, akhirnya orang tadi tidak jadi meneruskan perjalanannya karena menganggap kejadian yang dilihatnya itu akan membawa kerugian dalam usahanya.
Orang-orang jahiliyyah dahulu meyakini bahwa Tathayyur ini dapat mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudharat. Setelah Islam datang, keyakinan ini dikategorikan kedalam perbuatan syirik yang harus dijauhi. Dan Islam datang untuk memurnikan kembali keyakinan bahwa segala sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah dan membebaskan hati ini dari ketergantungan kepada selain-Nya.
“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al A’raf: 131)

Tathayyur Termasuk Kesyirikan Kepada Allah
Seseorang yang meyakini bahwa barangsiapa yang mengadakan acara walimahan atau hajatan yang lain pada bulan Muharram itu akan ditimpa kesialan dan musibah, maka orang tersebut telah terjatuh ke dalam kesyirikan kepada Allah ?.
Rasulullah ? yang telah mengkabarkan demikian, dalam sabdanya:

“Thiyarah itu adalah kesyirikan.” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi)
Para pembaca, ketahuilah bahwa perbuatan ini digolongkan ke dalam perbuatan syirik karena beberapa hal, di antaranya:

1. Seseorang yang berthiyarah berarti dia meninggalkan tawakkalnya kepada Allah ?. Padahal tawakkal merupakan salah satu jenis ibadah yang Allah ? perintahkan kepada hamba-Nya. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, semuanya di bawah pengaturan dan kehendak-Nya, keselamatan, kesenangan, musibah, dan bencana, semuanya datang dari Allah ?.
Allah berfirman (artinya):
“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu, tidak ada suatu makhluk pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasai sepenuhnya).” (Hud: 56)

2. Seseorang yang bertathayyur berarti dia telah menggantungkan sesuatu kepada perkara yang tidak ada hakekatnya (tidak layak untuk dijadikan tempat bergantung). Ketika seseorang menggantungkan keselamatan atau kesialannya kepada bulan Muharram atau bulan-bulan yang lain, ketahuilah bahwa pada hakekatnya bulan Muharram itu tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Hanya Allah-lah satu-satunya tempat bergantung. Allah berfirman (artinya):
“Allah adalah satu-satunya tempat bergantung.” (Al Ikhlash: 2)
Para pembaca, orang yang tathayyur tidaklah terlepas dari dua keadaan;
Pertama: meninggalkan semua perkara yang telah dia niatkan untuk dilakukan.
Kedua: melakukan apa yang dia niatkan namun di atas perasaan was-was dan khawatir.
Maka tidak diragukan lagi bahwa dua keadaan ini sama-sama mengurangi nilai tauhid yang ada pada dirinya.

Bagaimana Menghilangkannya?
Sesungguhnya syariat yang Allah turunkan ini tidaklah memberatkan hamba-Nya. Ketika Allah dan Rasul-Nya melarang perbuatan tathayyur, maka diajarkan pula bagaimana cara menghindarinya.
‘Abdullah bin Mas’ud, salah seorang shahabat Rasulullah telah membimbing kita bahwa tathayyur ini bisa dihilangkan dengan tawakkal kepada Allah.
Tawakkal yang sempurna, dengan benar-benar menggantungkan diri kepada Allah dalam rangka mendapatkan manfaat atau menolak mudharat, dan mengiringinya dengan usaha. Sehingga apapun yang menimpa seseorang, baik kesenangan, kesedihan, musibah, dan yang lainnya, dia yakin bahwa itu semua merupakan kehendak-Nya yang penuh dengan keadilan dan hikmah.
Rasulullah juga mengajarkan do’a kepada kita:

“Ya Allah, tidaklah kebaikan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidaklah kesialan itu datang kecuali dari-Mu, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (HR. Ahmad)

Hakekat Musibah
Suatu ketika, Allah menghendaki seseorang untuk tertimpa musibah tertentu. Ketahuilah bahwasanya musibah itu bukan karena hajatan yang dilakukan pada bulan Muharram, tetapi musibah itu merupakan ujian dari Allah.
Orang yang beriman, dengan adanya musibah itu akan semakin menambah keimanannya karena dia yakin Allah menghendaki kebaikan padanya.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, Allah akan timpakan musibah padanya.” (HR. Al Bukhari)
Ketahuilah, wahai pembaca, bahwa musibah yang menimpa seseorang itu juga merupakan akibat perbuatannya sendiri. Allah berfirman (artinya):
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri …” (Asy Syura: 30)
Yakni disebabkan banyaknya perbuatan maksiat dan kemungkaran yang dilakukan manusia.
Tinggalkan Tathayyur, Masuk Al Jannah Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab

Salah satu keyakinan Ahlussunnah adalah bahwa orang yang mentauhidkan Allah dan membersihkan diri dari segala kesyirikan, ia pasti akan masuk ke dalam Al Jannah. Hanya saja sebagian dari mereka akan merasakan adzab sesuai dengan kehendak Allah dan tingkat kemaksiatan yang dilakukannya.
Namun di antara mereka ada sekelompok orang yang dijamin masuk ke dalam Al Jannah secara langsung, tanpa dihisab dan tanpa diadzab. Jumlah mereka adalah 70.000 orang, dan tiap-tiap 1.000 orang darinya membawa 70.000 orang. Siapakah mereka?
Mereka adalah orang-orang yang telah disifati Rasulullah dalam sabdanya:

“Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay (suatu pengobatan dengan menempelkan besi panas ke tempat yang sakit), tidak melakukan tathayyur, dan mereka bertawakkal kepada Rabbnya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Meraka dimasukkan ke dalam Al Jannah tanpa dihisab dan tanpa diadzab karena kesempurnaan tauhid mereka. Ketika ditimpa kesialan atau kesusahan tidak disandarkan kepada hari/bulan tertentu atau tanda-tanda tertentu, namun mereka senantiasa menyerahkan semuanya kepada Allah.
Semoga tulisan yang singkat ini, dapat memberikan nuansa baru bagi saudara-saudaraku yang sebelumnya tidak mengetahui bahaya tathayyur dan semoga Allah selalu mencurahkan hidayah-Nya kepada kita semua.
Amiin.



Desember 20, 2009

Ku Persembahkan UntukMu, Wahai AYAH BUNDA!!

Mengenal Jerih Payah Ayah Bunda

Anak merupakan dambaan setiap orang. Kehadirannya menjadi penyejuk pandangan orang tua, menjadi penggembira ketika susah, dan menjadi penghibur qalbu ketika gundah gulana. Kalimat “Anakku sayang”, akan senantiasa terucap meski sang ibu atau bapak sedang mengalami sakit yang parah. “Biar bapakmu susah asal kamu tetap senang”, demikian ucapan seorang bapak yang sangat sayang pada anaknya. Seraya bermunajat dengan penuh harap kepada Allah Rabbul ‘alamin:
“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqan: 74)
Sosok anak tidak akan dapat terlepas dari ayah dan ibunya. Bagaimanapun keadaannya, ia adalah bagian dari keduanya. Dia adalah darah daging keduanya. Rahim ibu adalah tempat buaiannya yang pertama di dunia ini. Air susunya sebagai sumber makanan yang menumbuhkan jasadnya. Kasih sayang ibu adalah ketenangan yang ia selalu rindukan. Kerelaan ibu untuk berjaga membuat nyenyak tidur. Kegelisahan ibu menyisakan kebahagian untuknya. Timangan ayah dirasakan sebagai kekokohan. Perasan keringat ayah memberikan rasa kenyang dan hangat bagi dirinya. Allah berfirman (artinya): “Dan Kami wasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan payah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu. (Luqman: 14)

Berbakti Kepada Orang Tua Adalah Petunjuk Para Nabi Dan Rasul
Allah mengabadikan di dalam Al Qur’an tentang kisah-kisah bakti mereka kepada orang tua, supaya dapat diambil pelajaran bagi umat manusia bahwa ini merupakan petunjuk dan jalan seluruh para nabi dan rasul. Diantaranya adalah firman Allah (artinya):
“Dan aku (yaitu Nabi Isa u) adalah orang yang berbakti kepada ibuku dan dia tidak menjadikanku sebagai orang yang sombong dan celaka.” (Maryam:32).
“Dan dia (yaitu Nabi Yahya u) adalah orang yang berbakti kepada orang tuanya dan dia bukanlah orang yang sombong dan yang maksiat.” (Maryam:14).

Perintah Berbakti Kepada Orang Tua Adalah Pasangan Perintah Bertauhid
Tujuan paling agung dari dakwah para nabi dan rasul adalah tauhid. Dirangkaikannya antara kewajiban bertauhid dengan berbuat baik kepada orang tua di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan ibadah agung di sisi Allah . Diantaranya firman Allah :
“Katakanlah kemarilah aku akan membacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Robbmu janganlah kamu menyekutukannya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada orang tua.” (Al An’am:151).
“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada orang tua.” (An Nisa’: 36).
Di dalam As Sunnah, Abu Bakrah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda artinya):
“Maukah kuberitakan kepada kamu tentang dosa-dosa besar yang terbesar?” Kami menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua…” Muttafaqun ‘alaihi)

Bentuk-Bentuk Berbakti Kepada Orang Tua
1. Mentaati perintah keduanya dan menjauhi larangannya selama tidak dalam rangka bermaksiat kepada Allah
Allah berfirman artinya): “Jika keduanya memaksamu untuk kamu menyekutukan Aku dan kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah kamu menaati keduanya dan pergaulilah mereka di dunia dengan cara yang baik.” (Luqman: 15)
2. Memuliakan keduanya dan merendah di hadapannya, berucap dengan ucapan yang baik serta tidak menghardiknya
Allah berfirman artinya): “Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah lanjut usia dalam pemeliharaanmu) maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu menghardik mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik, dan rendahkan dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” (Al Isra’: 23-24)
3. Tidak melakukan safar perjalanan) jauh melainkan dengan seijin keduanya begitu juga jihad yang hukumnya fardhu kifayah
‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash berkata: “Seseorang menghadap Nabi Allah lalu berkata: ‘Aku membai’atmu di atas hijrah dan jihad untuk mencari pahala dari Allah . Rasulullah bersabda: ‘Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab: ‘Ya, bahkan keduanya’ masih hidup). Dan beliau bersabda: ‘Kamu ingin mencari pahala dari Allah?’ Dia menjawab: ‘Ya’. Rasulullah bersabda: ‘Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan berbaktilah kepada keduanya". (Muttafaqun ‘alaihi)
4. Mendahulukan hak kedua orang tua atas hak istri dan anak
Hal ini berdasarkan hadits tentang tiga orang yang masuk ke dalam gua lalu gua tersebut tertutup dengan batu sehingga tidak bisa keluar darinya. Lalu ketiga orang tersebut berdoa kepada Allah dengan cara tawassul dengan amal-amal mereka yang shalih. Salah satu di antara mereka bertawassul dengan amal mengutamakan hak kedua orang tuanya dari hak anak-anak dan istrinya. H.R. Al Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743)
5. Bersyukur terhadap segala bentuk pengorbanannya
Direalisasikan dengan cara berkhidmat terhadap segala sesuatu yang dibutuhkan keduanya baik harta, tenaga ataupun pikiran ataupun berusaha menghilangkan segala sesuatu yang dapat mengganggu keduanya. Allah berfirman artinya): “Dan Kami telah memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, karena ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah di atas kelemahan dan menyapihnya selama dua tahun maka bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (Luqman: 14)

Hakekat Kecintaan Dan Berbakti Kepada Orang Tua
Hakekat seorang anak yang cinta dan berbakti kepada orang tua manakala ia menjadi sebab orang tua tetap tsabat kokoh) memegang prinsip-prinsip agama, atau sabar membimbing keduanya supaya masuk ke dalam agama Islam bila keduanya masih kafir. Sebaliknya hakekat kedurhakaan seorang anak manakala ia menjadi fitnah sehingga menyebabkan orang tuanya terjatuh dalam perbuatan maksiat atau bahkan kekufuran.
Jadikanlah kedua orang tuamu sebagai ladang bercocok tanam untuk akhiratmu dan sebagai jembatan pengantar menuju al jannah surga)! Nabi bersabda artinya): “Nista dan hinanya, nista dan hinanya, nista dan hinanya.” Lalu ditanyakan: “Siapa wahai Rasulullah ? “Beliau bersabda: “Yaitu yang menjumpai kedua orang tuanya lalu tidak menyebabkan dia masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim no. 2551)

Berbakti Kepada Orang Tua Tetap Berlangsung Walupun Keduanya Sudah Wafat
Ikatan batin dari fitrah seorang anak kepada kedua orang tuanya tidak akan hilang walaupun keduanya telah wafat. Agama Islam tetap mensyari’atkan untuk berbakti kepada orang tua walaupun keduanya telah tiada. Beberapa amalan mulia yang dapat dilakukan sepeninggal keduanya adalah:
1. Mendo’akan kebaikan, memintakan maghfirah dan rahmat bagi keduanya. Rasulullah bersabda:
تُرْفَعُ للْمَيْتِ بَعْدَ مَوْتِهِ دَرَجَتُهُ فَيَقُوْلُ : أَيْ رَبِّي أَيُّ شَيْءٍ هذَا ؟ فَيُقَالُ لَهُ : وَلَدُكَ اسْتَغْفَرَ لَكَ
“Ada seseorang yang dinaikkan derajatnya setelah ia mati, maka ia bertanya: “Wahai Rabbku, ada apa ini?” Dikatakan kepadanya: “Anakmu memohonkan ampun untukmu.” (Shahih Ibnu Majah no. 3660, karya Asy Syaikh Al Abani).
2. Memperbanyak amalan shalih. Sesungguhnya orang tua akan mendapat balasan dari amalan shalih yang dilakukan oleh anaknya, karena anak itu termasuk dari usahanya dan harapannya. Allah berfirman artinya):
“Dan sesungguhnya manusia tidak memperoleh selain apa yang telah ia usahakan sendiri.” (An Najm: 39)
Rasulullah bersabda:
إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ
“Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang adalah hasil dari usahanya sendiri, dan sesungguhnya seorang anak termasuk dari usahanya orang tua).” (HR. Abu Dawud, lihat Ahkamul Jana’iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 216)
3. Menyambung silaturahmi kekerabatan) yang berasal dari keduanya.
4. Menyambung persaudaraan keluarga kawan orang tuanya. Rasulullah bersabda artinya): “Sesungguhnya kebaikan yang terbaik adalah menyambung persaudaraan dari keluarga kawan bapaknya.” (HR. Muslim).
5. Memenuhi wasiat keduanya, selama wasiat tersebut dalam hal ma’ruf bukan dalam rangka untuk bermaksiat kepada Allah .

Sikap Terhadap Orang Tua Yang Kafir
Kekufuran orang tua bukan penghalang untuk berbakti dan menggauli keduanya dengan baik. Allah berfirman artinya): “Jika keduanya memaksamu untuk kamu menyekutukan Aku dan kamu tidak memiliki ilmu tentangnya maka janganlah kamu mentaati keduanya dan pergaulilah mereka di dunia dengan cara yang baik.” (Luqman: 15).
Asma’ binti Abi Bakr berkata: “Pada masa perjanjian damai antara Quraisy dengan Nabi ibuku datang, padahal dia seorang wanita musyrik. Maka aku bertanya kepada Nabi : “Sesungguhnya ibuku datang, namun dia seorang wanita yang musyrik dan memintaku untuk berbuat baik kepadanya. Maka apakah aku boleh menyambung hubungan) dengannya?” Beliau menjawab: “Ya, sambunglah ibumu.” (HR. Al Bukhari)

Hikmah Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Sesungguhnya keutamaan dan buah dari berbakti kepada orang tua sangatlah agung dan besar, di antaranya:
1. Diterima amalan shalih dan dihapuskan dosa-dosa baginya. Al Ahqaf: 15-16)
2. Terkabulnya do’a. HR. Al Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743)
3. Lapang dada dan kebaikan hidup.
Dari Anas bin Malik berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَيُنْشَأَ لَهُ فِي أثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung persaudaraan keluarganya).” (HR. Al Bukhari)

Kemalangan Mendurhakai Orang Tua
Durhaka kepada orang tua merupakan lawan dari berbakti kepada keduanya. Diantara bentuk durhaka kepada orang tua adalah: tidak peduli dengan penderitaan yang dialami orang tua, tidak mau mengakui keberadaan orang tuanya karena jauhnya perbedaan status antara ia dengan keduanya, mencaci maki keduanya, membentak dan menghardik, memukul, memperbudak, mengkhianati, mendustakannya, menipu, tidak taat kepada perintah keduanya dan sebagainya dari bentuk kedurhakaan kepada kedua orang tua. Rasulullah bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامِةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً : عَاقٌ ، مَنَّانٌ ، وَمُكَذِّبٌ بِالْقَدَرِ
“Tiga orang yang tidak akan diterima amalan wajib maupun sunnah oleh Allah pada hari kiamat yaitu: orang yang durhaka kepada orang tuanya, orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya, dan orang yang mendustakan takdir.” (Shahihul Jami’, karya Asy Syaikh Al Albani no. 3060).
Akhir kata, semoga bahasan kali ini dapat menjadikan kita selalu berbakti kepada kedua orang tua dan menjauhkan dari sikap durhaka kepada keduanya. Amiin, Yaa Rabbal ‘Aalamiin..

Sumber : www.assalafy.org

Sabar Dalam Kehidupan

Sesungguhnya ujian dan cobaan yang datang bertubi-tubi menerpa hidup manusia merupakan satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Tidak satu pun diantara kita yang mampu menghalau ketentuan tersebut.

Keimanan, keyakinan, tawakkal dan kesabaran yang kokoh amatlah dibutuhkan oleh seorang hamba dalam menghadapi badai cobaan yang menerpanya. Sehingga tidak menjadikan dirinya berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala terhadap apa yang telah ditentukan baginya.

Oleh karena itu, dalam keadaan apapun seorang hamba yang beriman kepada-Nya harus senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah menurunkan berbagai musibah melainkan sebagai batu ujian atas keimanan yang mereka miliki. Allah Ta’ala berfirman :

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (Al Baqarah : 214)

Kesabaran merupakan perkara yang amat dicintai oleh Allah dan sangat dibutuhkan seorang muslim dalam menghadapi ujian dan cobaan yang dialaminya.

Berikut pembahasan tentang sabar dalam menghadapi ujian hidup oleh Al-Ustadz Luqman Ba'abduh. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kepribadian yang tangguh dalam menghadapi berbagai cobaan di dunia ini dan kembali ke negeri Akhirat dalam keadaan memperoleh ridho-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Silahkan download di bawah ini,
dengan syarat bukan untuk tujuan komersial.


01.Sabar dalam kehidupan



02.Sabar dalam kehidupan



Desember 19, 2009

Jangan Berebut Jabatan Bertameng Al-Qur`an

Oleh Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin


وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ. قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat denganku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengannya, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 54-55)

“Pucuk di cinta ulam tiba”, begitulah sebuah ungkapan yang terucap dari seorang yang merasa senang dan bahagia, atas tercapainya suatu dambaan yang selama ini dicari dan dicitakan, bahkan melebihi dari apa yang diduga dan dikira.
Adalah kesempatan emas, yang disenangi oleh banyak manusia, khususnya bagi para pengembara kursi (jabatan), tahta, dan dunia, tatkala dihadapkan pada sebuah tawaran, untuk duduk di atas kursi (jabatan).
Bisa jadi seseorang akan menanggapi dan berkata: “Ini namanya kejatuhan rezeki, susah dicari, dan untuk mendapatkannya sulit sekali. Belum tentu seumur hidup bisa ketemu sekali. Mengapa ditolak?” Atau mungkin…
“Betul, di dalamnya banyak penyimpangan dan pelanggaran. Akan tetapi, kalau bukan kita yang mengubah, lantas siapa lagi?”
“Kalau kursi jabatan diduduki oleh orang luar, siapa yang akan melakukan perubahan, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, mewujudkan syariat Islam dan sistem kenegaraan yang bernuansa Islam?”
“Segala sesuatu itu apabila sudah dikuasai dan dipegang kepalanya, yang lain akan mudah dikendalikan dan dikuasai.”

Penjelasan dan Makna Ayat
وَقَالَ الْمَلِكُ
“Dan raja berkata.”
Al-Imam Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir rahimahullahu (224-318 H), dalam tafsirnya Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an (16/147) menerangkan bahwa raja yang dimaksud dalam ayat ini adalah raja yang terbesar (terkemuka). Ia bernama Ar-Rayyan bin Al-Walid, sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat dari jalan Ali bin Hussain, dari Muhammad bin Isa, dari Salamah, dari Muhammad bin Ishaq. (lihat pula Tafsir Ibnu Katsir 4/275, Ibnu Abi Hatim 8/383)
أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي
“Aku memilih dia sebagai orang yang rapat denganku.”
Maknanya adalah: “Aku jadikan dia sebagai orang khusus dan penasihat khusus bagi diriku.” (Lihat Tafsir Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Baghawi).
Ibnu Abi Hatim, Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi rahimahullahu (wafat pada th. 327 H), menyebutkan dalam kitab tafsirnya (8/386), riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Raja mengatakan kepada nabi Yusuf ‘alaihissalam, “Sesungguhnya aku menyukai agar kamu menemaniku dalam setiap keadaan, kecuali dalam urusan keluargaku. Karena aku tidak suka makan bersamamu.”
Mendengar hal itu, Nabi Yusuf ‘alaihissalam marah sambil berkata: “Aku lebih berhak untuk menjauhkan diri, karena orangtuaku adalah Ibrahim Khalilullah, orangtuaku Ishaq dzabihullah.” Pada riwayat lain dengan lafadz: “Yusuf bin Ya’qub, Nabiyullah bin Ishaq dzabihullah bin Ibrahim Khalilullah.”
فَلَمَّا كَلَّمَهُ
“Maka tatkala telah bercakap-cakap dengannya.”
Al-Imam Al-Baghawi, Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud rahimahullahu wafat th. 516 H, dalam tafsirnya Ma’alimut Tanzil (4/250-251) menyebutkan riwayat dari Wahb (bin Munabbih, pen.). Ketika Nabi Yusuf ‘alaihissalam mendatangi sang raja dan mengucapkan salam kepadanya dengan bahasa Arab. Raja bertanya, “Bahasa apakah ini?” Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjawab, “Ini bahasa pamanku, Nabi Ismail.” Kemudian Nabi Yusuf ‘alaihissalam mendoakannya dengan bahasa Ibrani. Raja bertanya, “Bahasa apakah ini?” Dijawab, “Ini bahasa ayah-ayahku dan raja tidak tahu dengan dua bahasa tersebut.”
Wahb juga bercerita bahwa sang raja (Ar-Rayyan bin Al-Walid) ini menguasai 70 bahasa. Setiap kali berbicara dengan suatu bahasa, Nabi Yusuf menjawabnya dengan bahasa yang sesuai, bahkan menambah dengan dua bahasa, yaitu Arab dan Ibrani. Melihat hal ini, sang raja heran dan terkesan, dalam keadaan Nabi Yusuf masih muda. Usia beliau pada waktu itu baru mencapai 30 tahun. Maka raja mendudukkannya, dan berkata, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:
قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
“Dia berkata: ‘Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami’.”
Sebagian meriwayatkan, bahwa raja ingin mendengarkan secara langsung tentang ta’bir mimpi yang pernah diceritakan sebelumnya (lihat apa yang tersebut dalam surat Yusuf dari ayat 43 sampai 49, pen.).
Setelah mendengar seluruh penuturan Nabi Yusuf ‘alaihissalam, Sang Raja bertanya, “Siapa yang akan mendampingiku dalam hal ini, serta mampu menyelesaikan, mengerjakan, dan mengatur semua urusan ini?”
Nabi Yusuf ‘alaihissalam menjawab, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
Raja berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.”
Ibnul Jauzi rahimahullahu (588-587 H), menyebutkan dalam tafsirnya riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, makna مَكِينٌ أَمِينٌ adalah “Aku telah mengokohkan, menguatkan, dan memercayakan urusan kekuasaan (kerajaan/negara) kepadamu.”
Al-Muqatil rahimahullahu berkata, makna الْـمَكِينُ yaitu orang yang punya kedudukan (terkemuka). Sedangkan الْأَمِينُ yaitu yang menjaga, memelihara, dan melindungi. (Lihat Zadul Masir 3/439)
Al-Baghawi rahimahullahu menyebutkan dalam tafsirnya, الْـمَكِينُ yaitu berpangkat, berkedudukan. Sedangkan الْأَمِينُ adalah yang dipercaya.
Al-Alusi rahimahullahu dalam kitabnya Ruhul Ma’ani juga menyebutkan, Al-Makin yaitu berpangkat dan berkedudukan yang tinggi. Al-Amin yaitu dipercaya atas segala sesuatu.
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ
Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir).”
Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullahu berkata dalam tafsirnya, kata خَزَائِنُ adalah bentuk jamak dari خَزَانَةٌ artinya tempat menyimpan, yaitu tempat peyimpanan makanan dan harta. Sedangkan الْأَرْضُ alif-lam di sini berfungsi sebagai pengganti idhafah, maknanya خَزَائِنُ أَرْضِكَ yaitu bendahara negaramu (Mesir).
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu juga menyebutkan sebuah riwayat dari jalan Sa’id bin Manshur rahimahullahu ia berkata, “Saya mendengar dari Malik bin Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Negeri Mesir adalah خَزَائِنِ الْأَرْضِ. Tidakkah kalian mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ
yaitu untuk menjaganya (menjadi bendahara negara), dengan menghilangkan mudhaf.
إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
“Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
Al-Imam Ath-Thabari rahimahullahu setelah menyebutkan ayat ini, mengatakan bahwa para ulama berselisih dalam menafsirkannya hingga menjadi tiga pendapat:
Pertama, mereka berpendapat, maknanya adalah: “Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga segala yang telah dititipkan kepadaku. Berpengetahuan terhadap apa yang telah diserahkan/dilimpahkan kepadaku.”
Pendapat ini dinisbahkan kepada sebuah riwayat dari Ibnu Humaid, dari Salamah, dari Ibnu Ishaq.
Kedua, pendapat yang mengatakan, maknanya: “Aku adalah orang yang pandai menjaga segala yang telah dilimpahkan kepadaku. Berpengetahuan terhadap perkara (urusannya).”
Pendapat ini dinisbahkan kepada sebuah riwayat dari jalan Bisyr, dari Yazid, dari Sa’id, dari Qatadah.
Ketiga, ada pula yang mengatakan, maknanya: “Aku adalah seorang yang pandai menjaga untuk hisab/perhitungan (perihal pengeluaran dan pemasukan harta milik negara, pen.), mengetahui beberapa bahasa.”
Pendapat ini disandarkan kepada sebuah riwayat, dari jalan Ibnu Waqi’, dari ‘Amr, dari Al-Asyja’i.
Setelah memaparkan tiga pendapat di atas, beliau berkata: “Menurut kami pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama. Karena ucapan ini terjadi setelah Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengatakan kepada raja: ”Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir).” Bentuk permohonan Nabi Yusuf kepada raja, bahwa ia mampu mengurusi (sebagai bendahara) negara Mesir, menunjukkan, bahkan sekaligus sebagai pemberitaan bahwa beliau memiliki kemampuan dalam hal ini. Makna ini lebih sesuai untuk memaknai kalimat ﭻ ﭼ ketimbang dimaknakan dengan makna sebagaimana yang tersebut pada pendapat ketiga (tersebut di atas).”
Abul Fida Isma’il bin Umar, terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir rahimahullahu (700-774 H), berkata setelah menyebutkan dua ayat di atas: “Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang Raja Mesir (Ar-Rayyan bin Al-Walid), setelah memastikan terbebasnya Nabi Yusuf ‘alaihissalam, bersih dan sucinya kehormatan beliau dari apa yang dituduhkan kepadanya. Raja mengatakan sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي
“Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat denganku”, yakni jadikanlah dia sebagai orang khusus dan penasihat khusus bagiku.
فَلَمَّا كَلَّمَهُ
“Maka tatkala telah bercakap-cakap dengan dia” yakni raja telah bercakap-cakap dengannya, mengetahui serta melihat keutamaan, kepandaian, kemahiran, dan kecakapan serta keutamaan dan kesempurnaan pada rupa dan perangainya, berkatalah raja kepadanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ
“Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami” yakni, sesungguhnya kamu di sisi kami telah menjadi seseorang yang berkedudukan dan dipercaya. Yusuf ‘alaihissalam berkata, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ
”Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
Nabi Yusuf ‘alaihissalam memuji dirinya. Hal ini diperbolehkan bagi seorang yang belum diketahui tentang keadaan dirinya, pada saat yang dibutuhkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa ia adalah orang yang حَفِيظٌ (pandai menjaga), penjaga/bendahara yang dipercaya, عَلِيمٌ (berpengetahuan), yakni memiliki pengetahuan, ketelitian, dan kejelian terhadap segala perkara yang diurusinya. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/275)
Perlu diketahui sekali lagi, bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengucapkan ucapan yang mengandung pujian terhadap dirinya tersebut adalah ketika beliau telah mendapatkan kedudukan dan kepercayaan di sisi raja. Bukan serta merta beliau memuji dirinya untuk meraih kedudukan. Tentu hal ini berbeda dengan keadaan para kontestan pemilu atau para politikus yang berkampanye memuji diri dalam rangka meraih kedudukan dan ambisi politiknya.

Faedah
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menyebutkan dalam tafsirnya: “Sebagian ulama berkata, pada ayat ini terdapat dalil tentang diperbolehkannya bagi orang yang baik (shalih), bekerja untuk orang yang buruk (fajir) atau penguasa yang kafir. Dengan syarat, orang tersebut tahu, bahwa segala pekerjaan/tugas diserahkan kepadanya (diberi kekuasaan penuh untuk mengaturnya), dan bukan diatur oleh (orang-orang yang fajir atau penguasa yang kafir tersebut, pen.). Sehingga, ia akan mengatur sesuai dengan apa yang dia kehendaki (untuk hal yang baik dan bermanfaat). Adapun kalau pekerjaan tersebut harus berdasarkan pada kemauan dan kehendak orang yang fajir atau (penguasa yang kafir), menuruti hawa nafsu dan kekufurannya (di bawah aturan mereka), hal yang demikian ini tidak diperbolehkan.
Sebagian mereka berpendapat, perihal ini (bekerja untuk orang buruk/ penguasa yang kafir) khusus hanya untuk Nabi Yusuf ‘alaihissalam saja. Adapun sekarang tidak diperbolehkan. Pendapat yang pertama lebih kuat (boleh dan bukan kekhususan), dengan syarat yang telah disebutkan tadi.
Al-Mawardi rahimahullahu berkata: “Apabila yang berkuasa adalah orang yang zalim, para ulama berbeda pendapat tentang boleh dan tidaknya, seorang untuk bekerja dengannya.
Pendapat pertama, membolehkan. Apabila seorang bekerja dengan baik dan benar (memenuhi hak), pada perkara yang telah diserahkan penuh kepadanya (untuk mengaturnya). Karena dalam ayat ini, Nabi Yusuf ‘alaihissalam bekerja (menerima pekerjaan) dari raja (Fir’aun)1. Pertimbangan ini berdasarkan pekerjaan (kemampuan) beliau dan bukan pada orang lain.
Pendapat kedua, tidak membolehkan. Hal ini berdasarkan adanya bentuk/unsur menolong atas kezaliman yang mereka lakukan. Memuji mereka, dengan meniru (melakukan) perbuatannya.
Para ulama yang berpendapat membolehkan bekerja dengan orang yang zalim, menjawab perihal yang terjadi pada Nabi Yusuf ketika menerima pekerjaan dari Fir’aun, dengan dua jawaban:
Pertama, Fir’aun (raja)-nya Nabi Yusuf waktu itu seorang yang shalih (muslim). Adapun Fir’aun yang membangkang (kafir), adalah Fir’aun (raja)-nya Nabi Musa ‘alaihissalam.
Kedua, hal ini melihat pada kekuasaan dan bukan pada pekerjaannya.”
Al-Mawardi berkata: “Yang benar dalam hal ini adalah merinci masalah menjadi tiga kesimpulan:
1. Boleh bagi orang yang memiliki kemampuan dan keahlian untuk melakukannya. Dengan catatan, tidak ada unsur berijtihad (berpendapat) dalam melaksanakan tugasnya seperti menyalurkan shadaqah dan zakat.
Boleh seseorang menerima pekerjaan dan tugas dari orang yang zalim. Karena, adanya nash/dalil yang menerangkan kepada siapa shadaqah dan zakat itu disalurkan telah mencukupi, sehingga tidak memerlukan lagi adanya ijtihad. (Maka kebebasan bertindak dalam hal ini, telah menjadi cukup baginya [terbebaskan] dari mengikuti perintah [peraturan orang zalim tersebut, pen.]).
2. Keadaan di mana seseorang tidak diperbolehkan untuk bertindak sendiri, adanya keharusan untuk berijtihad (berpendapat, berinisiatif) dalam mengatur urusan, seperti menangani harta rampasan.
Keadaan seperti ini tidak boleh bagi seseorang untuk menerima penugasan dari orang yang zalim. Hal ini dikarenakan ia telah melakukan tindakan yang tidak benar dan berijtihad (berpendapat, mengatur) pada perkara yang tidak berhak untuk melakukannya.
3. Keadaan yang boleh melimpahkan tugas kepada orang yang ahli dan boleh baginya berijtihad, seperti menangani hukum dan pidana. Apabila terjadi kesepakatan dari kedua belah pihak dan tidak ada yang dipaksa, (maka boleh baginya bekerja untuk orang yang zalim, pen.). Namun apabila terjadi pemaksaan, tidak diperbolehkan.
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullahu dalam Taisir Al-Lathiful Mannan, berkata setelah menyebutkan ayat di atas: “Pada ayat ini terdapat keutamaan ilmu, ilmu syar’i dan hukum, ilmu ta’bir mimpi, ilmu mengatur dan mengurusi negara, serta ilmu kepemerintahannya. Yang menjadi salah satu sebab Nabi Yusuf ‘alaihissalam memperoleh kedudukan yang tinggi di dunia dan di akhirat kelak, yaitu adanya ilmu yang beragam dan banyak (mengetahui berbagai macam ilmu). Hal ini juga menunjukkan bahwa ilmu ta’bir mimpi termasuk bagian dari fatwa. Maka tidak boleh bagi siapapun untuk mena’birkan suatu mimpi dan memastikannya, sebelum mengetahui secara pasti. Sebagaimana halnya (dalam hukum/perkara), tidak boleh bagi siapapun berfatwa dalam hal apapun tanpa ilmu. Karena dalam surat Yusuf ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menamai kemampuan mena’birkan mimpi, dengan nama ilmu, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ
“Dan demikianlah Rabbmu, memilih kamu (untuk menjadi nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari ta’bir mimpi-mimpi.” (Yusuf: 6)
Ayat ini juga menerangkan, tidak mengapa seseorang memberitakan tentang dirinya, berupa sifat-sifat yang baik dan sempurna, berilmu pengetahuan dan yang lainnya. Hal ini boleh dilakukan selama membawa maslahat, selamat dari berdusta, dan tidak bermaksud untuk memperlihatkan diri (riya’). Seperti yang tersebut dalam ayat: Berkatalah Yusuf: “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 55)

Catatan: Beberapa rujukan yang tersebut di atas, keumumannya dinukil dari Al-Maktabah Asy-Syamilah. Mengingat keterbatasan rujukan yang ada pada kami.
Wallahu a’lam bish-shawab, wal ‘ilmu ‘indallah.

1 Al-Imam Ath-Thabari rahimahullahu berkata dalam tafsirnya, fir’aun (pharao) adalah nama yang dipakai untuk penyebutan raja-raja Mesir zaman dahulu. Sebagaimana Qaisar (Kaisar) atau Hiraql (Heraklius) untuk penamaan raja-raja Romawi. Adapun Persia terkenal penyebutannya dengan Al-Akasirah, bentuk jamak dari Kisra. Sedangkan raja-raja Yaman dikenal penamaannya dengan At-Taba’ah, jamak dari Taba’. Kemudian beliau menyebutkan riwayat dari Muhammad bin Ishaq, bahwa fir’aun-nya Nabi Yusuf adalah raja terkemuka bernama Ar-Rayyan bin Al-Walid, dan masuk Islam (mengikuti ajaran Nabi Yusuf ‘alaihissalam). Sedangkan fir’aun-nya Nabi Musa ‘alaihissalam adalah raja yang bernama Al-Walid bin Mush’ab bin Ar-Rayyan (dan menentang ajaran Nabi Musa ‘alaihissalam)

Sumber :
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&i


Desember 16, 2009

Seruan Itu Telah Bergema, Anakku…..


Penulis: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran

Shalat adalah ibadah utama seorang muslim. Baik buruknya shalat seseorang akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan akhiratnya. Namun di masa kini, betapa banyak orang yang tidak mengerjakan amalan ini. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang memang malas untuk mengerjakan shalat, tidak tahu pentingnya shalat, dan tersibukkan dengan urusan dunia. Uraian berikut mencoba untuk membimbing seorang anak sedini mungkin untuk mengerjakan shalat sehingga ketika dewasa ia senantiasa menjunjung tinggi kewajiban ini.

Adzan berkumandang. Anak-anak itu tetap tak beranjak dari depan TV, tempat bermain atau pembaringannya, bahkan hingga akhir waktu shalat datang menjelang. Orang tua mereka pun tak pernah ambil pusing dengan itu semua. Betapa mengherankan! Sementara mereka begitu perhatian dan semangat membangunkan anak-anaknya atau memanggil mereka pulang dari bermain agar tidak terlambat sekolah, atau terlambat masuk les ini dan itu.
Duhai…! Lupakah mereka dengan peringatan dari Rabb semesta alam:

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَاْلآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Akan tetapi kalian mengutamakan dunia, sementara akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la: 16-17)
Seorang mukmin yang berakal tentu tidak akan memilih sesuatu yang hina dengan meninggalkan yang lebih baik. Pun tidak akan membeli kesenangan sesaat dengan ketenangan yang abadi, karena kecintaan terhadap dunia merupakan pangkal setiap kesalahan. (Taisirul Karimir Rahman hal. 921)
Duhai, siapa kiranya orang tua yang ingin membiarkan bahkan menanjurkan anak-anak mereka memilih sesuatu yang hina? Tidakkah mereka merasa senang melihat anak-anaknya tumbuh dalam ketaatan kepada Rabbnya untuk menikmati kesenangan yang abadi? Siapa kiranya orang tua yang tak berbesar hati mengharap kebaikan bagi anak-anak yang seperti itu?
Anjuran, bimbingan, dan arahan tentu dibutuhkan sepanjang perjalanan si anak agar dia menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya. Di antaranya adalah anjuran untuk menjalankan ibadah badaniyah terbesar, yakni shalat.
Inilah yang dilakukan sosok teladan bagi para orang tua, Luqman Al-Hakim, ketika menyampaikan wasiat kepada anaknya:

يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَةَ

“Wahai anakku, dirikanlah shalat…” (Luqman: 17)
Yang dimaksud adalah menunaikan shalat dengan seluruh batasan, kewajiban, dan waktu-waktunya (Tafsir Ibnu Katsir, 6/194)
Inilah tanggung jawab yang harus ditunaikan kepada keluarga, sebagai perwujudan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاَةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Perintahkanlah keluargamu untuk menunaikan shalat dan bersabarlah atasnya.” (Thaha: 132)
Keluarga adalah siapa pun yang ada dalam sebuah rumah tangga, baik istri, putra-putri, bibi, ataupun ibu. (Syarh Riyadhush Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 2/119)
Mereka dianjurkan untuk menunaikan shalat dan didorong untuk menjalankan shalat, baik shalat fardhu maupun nafilah. Sementara memerintahkan pada sesuatu berarti memerintahkan pada seluruh perkara yang dapat menyempurnakan sesuatu itu. Demikian pula perintah untuk shalat. Berarti mengajarkan pula hal-hal yang dapat memperbagus shalat, merusak, maupun menyempurnakannya.
Juga bersabar dalam menegakkan shalat dengan seluruh batasan, rukun, adab, dan khusyu’ dalam shalat, karena hal ini terasa berat bagi jiwa. Akan tetapi, jiwa ini harus dipaksa dan diperangi untuk menjalankannya, diiringi pula senantiasa oleh kesabaran, karena bila seorang hamba menegakkan shalat sesuai dengan apa yang diperintahkan ini, maka dia akan lebih menjaga dan menegakkan perkara agama yang lainnya. Sebaliknya, bila seorang hamba menyia-nyiakan shalatnya, maka dia akan lebih menyia-nyiakan perkara agama yang lainnya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 517)
Begitu pula yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Amr ibnul ‘Ash radhiallahu 'anhu:

مُرُوا أُوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي المَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka bila enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Ahmad dan dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 5744: “Hadits ini hasan.”)
Inilah di antara sekian hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua, dengan memerintahkan mereka shalat ketika telah mencapai usia tujuh tahun, dan memukul mereka bila meremehkan dan menyia-nyiakannya ketika telah menginjak sepuluh tahun, dengan syarat anak itu berakal. Artinya, bila anak telah mencapai tujuh atau sepuluh tahun namun mereka tidak berakal (gila), maka mereka tidak diperintah dengan sesuatu pun, tidak pula dipukul bila meninggalkan hal itu. Akan tetapi, orang tua harus mencegah terjadinya kerusakan pada diri mereka, baik di dalam maupun di luar rumah.
Yang dimaksud dengan pukulan di sini adalah yang mendidik, yakni pukulan yang tidak membahayakan. Sehingga tidak diperkenankan seorang ayah memukul anaknya dengan pukulan yang melukai, tidak boleh pula pukulan yang bertubi-tubi tanpa ada keperluan. Namun bila dibutuhkan, misalnya sang anak tidak mau menunaikan shalat kecuali dengan pukulan, maka sang ayah boleh memukulnya dengan pukulan yang membuat jera, namun tidak melukai, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan orang tua untuk memukul bukan untuk menyakiti si anak, melainkan untuk mendidik dan meluruskan mereka. (Syarh Riyadhush Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, 2/123-124)
Tak heran bila didapati perintah untuk mengajarkan shalat kepada anak-anak, mengingat begitu penting dan berartinya shalat bagi seorang hamba. Di antara sekian banyak keutamaan yang bakal dipetik adalah penjagaan dirinya dari kekejian dan kemungkaran.

إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Al-‘Ankabut: 45)
Al-Fahsyaa’ dalam ayat ini meliputi seluruh kemaksiatan yang diingkari dan dianggap kotor serta disukai oleh hawa nafsu. Sementara Al-Mungkar mencakup seluruh perbuatan maksiat yang diingkari oleh akal dan fitrah.
Seorang hamba yang senantiasa menunaikan shalat dengan menyempurnakan rukun-rukun, syarat-syarat dan khusyu’ di dalamnya, akan beroleh cahaya di kalbunya, bersih hatinya, bertambah iman, takwa dan kecintaannya terhadap kebaikan, akan berkurang atau bahkan hilang keinginannya terhadap kejelekan. Dengan begitu, kesinambungan dan penjagaannya terhadap shalat dengan cara seperti ini akan mencegahnya dari segala perbuatan keji dan mungkar. Inilah di antara tujuan terbesar dan buah yang dipetik dari shalat.
Sementara itu, di dalam ibadah shalat terdapat maksud yang lebih agung dan lebih besar, yaitu dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan kalbu, lisan dan badan. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakan hamba-hamba-Nya, dan ibadah paling utama yang dilakukan oleh para hamba adalah shalat, di dalamnya terkandung ibadah seluruh anggota badan yang tidak terdapat pada ibadah selainnya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 632)
Keutamaan lain yang bakal diperoleh seorang hamba dengan shalatnya digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam banyak perkataan beliau. Di antaranya yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ قَالُوا: لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؛ قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الخَطَايَا

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ‘Bagaimana menurut kalian, bila ada sebuah sungai besar di depan pintu salah seorang dari kalian yang dia mandi di dalamnya lima kali dalam sehari, apakah ada dakinya yang tertinggal?’ Para shahabat menjawab: ‘Tidak akan tertinggal dakinya sedikit pun.’ Beliau pun berkata: ‘Demikian permisalan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan’.” (HR. Al-Bukhari no. 528 dan Muslim no. 668)
Abu Hurairah radhiallahu 'anhu juga mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat Jum’at berikutnya, merupakan penggugur bagi dosa yang ada di antaranya selama tidak dilakukan dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)
‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu 'anhu menyampaikan pula:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتٌوْبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَا لَمْ تُؤْتَ كَبِيْرَةٌ، وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang didatangi waktu shalat wajib, lalu dia memperbagus wudhu’nya, khusyu’nya dan ruku’nya, kecuali shalatnya akan menjadi penggugur bagi dosa-dosanya yang lalu selama tidak melakukan dosa-dosa besar dan ini terus berlangsung sepanjang masa.” (HR. Muslim no. 228)
Mengajarkan shalat pada anak-anak dapat dilakukan dengan berwudhu dan menunaikan shalat di hadapan mereka, mengajak mereka ke masjid, mendorong mereka dengan adanya kitab yang berisi tata cara shalat agar seluruh keluarga dapat pula mempelajari hukum-hukum shalat. Selain itu, diajarkan pula Al-Qur’an, dimulai dengan Surat Al-Fatihah serta surat-surat pendek lainnya, kemudian diajarkan untuk menghapal bacaan tahiyyat.
Anak-anak diajari pula hukum-hukum, syarat-syarat, kewajiban-kewajiban shalat, serta hal-hal yang membatalkan shalat, sunnah-sunnah, adab-adab dan dzikir-dzikir dalam shalat.
Di samping itu, anak laki-laki diberi dorongan untuk menunaikan shalat Jum’at dan jamaah di masjid di belakang barisan shaf laki-laki. Tentu saja harus disertai kelemahlembutan ketika menasihati mereka bila terjatuh dalam kesalahan, tidak membentak ataupun menghardik mereka, agar nantinya mereka tidak meninggalkan shalat hingga justru membuahkan dosa bagi orang tuanya. (Kaifa Nurabbi Auladana hal. 25)
Sementara anak-anak perempuan diajari keutamaan shalat mereka di dalam rumah, sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajari para wanita:

صَلاَةُ المَرْأَةِ فِي بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِي حُجْرَتِهَا، وَصَلاَتُهَا فِي مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِي بَيْتِهَا

“Shalat seorang wanita di kamar khusus dalam rumahnya lebih utama daripada shalatnya di kamarnya, dan shalatnya di makhda’nya1 lebih utama daripada shalatnya di dalam kamar khusus di rumahnya.” (HR. Abu Dawud dan dikatakan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih 2/150: “Hadits ini shahih menurut syarat Al-Imam Muslim.”)
Hal yang tak boleh luput dari pengajaran shalat adalah masalah khusyu’. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ

“Beruntunglah orang-orang yang beriman, yang khusyu’ di dalam shalat mereka.” (Al-Mukminun: 1-2)
Khusyu’nya seorang hamba dalam shalat adalah hadirnya hati di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala, merasakan kedekatan dengan-Nya, hingga tenang hati, jiwa dan gerakannya, hampir-hampir tidak berpaling dari-Nya, dengan sepenuh adab di hadapan Rabbnya, menghadirkan segala yang diucapkan dan dilakukan di dalam shalat, dari awal hingga akhir shalatnya, hingga hilanglah segala bisikan dan pikiran yang hina. Inilah ruh shalat, inilah yang diinginkan dalam shalat seorang hamba, dan inilah yang diwajibkan atas seorang hamba. Oleh karena itu, shalat tanpa khusyu’ dan tanpa disertai hadirnya hati, walaupun mencukupi untuk menggugurkan kewajiban dan mendapatkan pahala, namun sesungguhnya pahala itu sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. (Taisirul Karimir Rahman hal. 547-548)
Demikian semestinya yang menjadi perhatian orang tua, demi mengantarkan putra-putrinya ke gerbang kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Siapa kiranya yang tak tergiur dengan janji Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak pernah diselisihi-Nya:

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ. أُولَئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُوْنَ

“Dan orang-orang yang menjaga shalatnya, mereka itu dimuliakan di dalam surga.” (Al-Ma’arij: 34-35)
Wallahu a’lam.

Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com



Wujudkan Anganmu dalam Bimbingan Ilmu

Penulis: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran

Suatu ketika Abu Hurairah radhiallahu 'anhu melihat dua orang laki-laki. Bertanyalah beliau pada salah seorang dari mereka, “Siapa orang ini?” Orang itu menjawab, “Dia ayahku.” Abu Hurairah radhiallahu 'anhu kemudian berpesan, “Jangan engkau panggil dia dengan menyebut namanya, jangan berjalan di depannya dan jangan engkau duduk sebelum dia duduk.” Pesan dari shahabat yang mulia ini berisi anjuran agar seorang anak hormat dan berbakti pada orang tua. Uraian berikut mencoba mengarahkan bagaimana membimbing anak agar bisa memiliki akhlak seperti yang dituntunkan Abu Hurairah radhiallahu 'anhu.

Anak adalah tumpuan harapan. Segala impian terbaik tertumpah pada dirinya. Bahkan hampir setiap orang tua menginginkan agar buah hati mereka mendapatkan apa pun yang lebih baik daripada dirinya, tak peduli harus membanting tulang dan memeras keringat sepanjang siang dan malam.
Namun terkadang impian itu pupus begitu saja. Bagai tanaman siap petik yang habis musnah dimakan hama. Anak yang mereka idamkan membalasi jerih payah orang tuanya dengan kedurhakaan. Tak jarang si anak berani beradu pandang dan bersuara lantang di hadapan ayah dan ibunya. Permintaan bertubi-tubi dilontarkan, menuntut pemenuhan dengan segera. Bahkan lebih dari itu, tangan atau kakinya begitu ringan menimpa tubuh keduanya. Sungguh, hanya kepada Allah semata kita mengadukan semua ini.
Tentu, tak seorang pun ayah atau ibu menginginkan putra-putri mereka “salah asuhan”, dan tentu, semua itu butuh arahan. Andaikata mereka merujuk kembali lembaran-lembaran Kitabullah, Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, serta catatan perjalanan kehidupan para pendahulu yang shalih, niscaya mereka akan mendapatinya.
Sesungguhnya orang tua harus menyadari bahwa kebaikan buah hati mereka datang dari sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala yang memberikan petunjuk dan taufik kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, tak boleh dilupa oleh orang tua untuk memohon kebaikan bagi keturunan mereka, sebagaimana hal ini pun dilakukan oleh para nabi. Demikian pula dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam doa beliau untuk cucu beliau, Al-Hasan radhiallahu 'anhu:
اللّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ وَأَحْبِبْ مَنْ يُحِبُّهُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia dan cintailah pula orang yang mencintainya.” (HR. Al-Bukhari no. 5884 dan Muslim no. 2421)
Inilah pula yang dimohon oleh hamba-hamba Ar-Rahman dalam doa mereka:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
“Ya Allah, anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan anak-anak kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Furqan: 74)
Begitu pula dalam doa yang lain:
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي
“Wahai Rabbku, berikanlah taufik bagiku untuk bersyukur atas nikmat-Mu yang Kau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk menunaikan amal shalih yang Engkau ridhai, dan berikanlah kebaikan pada keturunanku.” (Al-Ahqaf: 15)
Demikianlah doa-doa kebaikan yang senantiasa menjadi tuturan orang tua yang mengharapkan kebaikan bagi keturunan mereka. Pun hendaknya orang tua menjaga dirinya, agar tak terlontar ucapan doa kejelekan bagi anak-anaknya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memperingatkan hal ini dalam sabda beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لَهُنَّ، لاَ شَكَّ فَيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلَى وَلَدِهِ
“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak diragukan lagi: doa orang yang teraniaya, doa orang yang bepergian, dan doa kejelekan orang tua bagi anaknya.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 24: hasan)
Seiring dengan itu, ayah dan ibu harus memberikan pengajaran adab kepada putra-putri mereka agar mereka mengerti, betapa agung kedudukan ayah dan ibunya. Di satu tempat dalam Kitab-Nya, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengajarkan tentang adab yang agung terhadap kedua orang tua:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوْا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيْمًا. وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Rabbmu memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya semata, dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah satu atau keduanya mencapai usia lanjut di sisimu, jangan engkau katakan pada keduanya ucapan “uff” dan jangan pula menghardiknya, dan ucapkanlah perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah sayap kehinaan karena kasih sayang dan ucapkanlah doa: ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku semenjak kecilku’.” (Al-Isra: 23-24)
Dalam kalam-Nya ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua dengan segenap bentuk kebaikan, baik berupa ucapan maupun perbuatan, karena kedua orang tua merupakan sebab adanya seorang hamba. Juga keduanya memiliki kecintaan, kebaikan dan kedekatan dengan sang anak yang semua itu mengokohkan hak mereka dan mewajibkan bakti pada mereka berdua.
Apabila mereka berdua mencapai usia lanjut, saat kekuatan mereka telah melemah dan membutuhkan kelembutan dan kebaikan, jangan sampai terlontar ucapan uff (uh) di hadapan keduanya, sementara ini adalah ucapan menyakitkan yang paling ringan. Terlebih lagi ucapan yang lainnya. Artinya, jangan engkau sakiti mereka, sekalipun dengan suatu gangguan yang paling ringan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga melarang hamba-Nya menghardik kedua orang tua atau pun berbicara dengan mereka dengan perkataan yang kasar, serta memerintahkan untuk berucap dengan perkataan mulia yang mereka senangi, beradab dan berlemah lembut dengan ucapan yang baik dan lembut, yang menyenangkan hati dan menenangkan jiwa mereka. Ini tentu berbeda-beda sesuai dengan keadaan, kebiasaan dan zaman.
Dalam ayat yang mulia ini pula Allah memerintahkan untuk tawadhu’ karena merendahkan diri dan rasa kasih sayang kepada orang tua, serta untuk mengharapkan pahala, bukan semata karena rasa takut terhadap mereka, atau mengharap harta kekayaan mereka, atau pun maksud-maksud lain yang tidak membuahkan pahala. Kemudian diperintahkan pula seorang hamba untuk mendoakan ayah dan ibunya agar mendapatkan rahmat semasa mereka hidup maupun setelah mereka tiada, sebagai balasan atas pendidikan yang mereka berikan sepanjang masa kecil sang anak. (Taisirul Karimir Rahman hal. 456)
Inilah tuntunan Allah dalam Kitab-Nya. Sementara itu, didapati pula berbilang bimbingan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mesti ditanamkan pada diri si anak. Inilah di antara wasiat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Abud Darda’ radhiallahu 'anhu:
أَطِعْ وَالِدَيْكَ، وَإِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ دُنْيَاكَ فَاخْرُجْ لَهُمَا
“Taatilah kedua orang tuamu. Seandainya mereka menyuruhmu untuk keluar dari dunia, maka keluarlah karena perintah mereka berdua.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 14: hasan)
Seorang anak diajarkan pula untuk menjaga kehormatan dan nama baik ayah ibunya dengan menahan lisannya dari mencela ayah atau ibu orang lain, karena biasanya orang yang dicela orang tuanya tidak akan tinggal diam. Dia akan berbalik mencela, sehingga dengan itulah celaan bisa berbalik menimpa kedua orang tuanya. ‘Abdullah bin ‘Amr radhiallahu 'anhuma menuturkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ. قِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ
“Termasuk dosa besar yang paling besar seseorang melaknat kedua orang tuanya.” Beliau pun ditanya, “Ya Rasulullah, bagaimana bisa seseorang melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab, “Seseorang mencela ayah orang lain hingga orang lain itu balas mencela ayahnya, dan dia mencela ibu orang lain hingga orang itu balas mencela ibunya.” (HR. Al-Bukhari no. 5973 dan Muslim no. 90)
Berbagai nasihat pun ditemui di kalangan sahabat, yang sarat dengan pendidikan adab bagi seorang anak. Di antara mereka ada kisah Abu Hurairah radhiallahu 'anhu. Beliau melihat dua orang laki-laki, lalu bertanyalah beliau pada salah seorang dari mereka, “Siapa orang ini?” Orang itu menjawab, “Dia ayahku.” Abu Hurairah radhiallahu 'anhu pun berpesan padanya:
لاَ تُسَمِّ بِاسْمِهِ، وَلاَ تَمْشِ أَمَامَهُ، وَلاَ تَجْلِسْ قَبْلَهُ
“Jangan engkau panggil dia dengan menyebut namanya, jangan berjalan di depannya dan jangan engkau duduk sebelum dia duduk.” (Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 32: Shahihul isnad)
Inilah di antara sekian banyak adab kepada kedua orang tua sepanjang hayat mereka. Namun bakti bukanlah sebatas itu semata, bahkan terus berlanjut sampaipun kedua orang tua telah tiada. Saat itu, doa anak yang shalih akan senantiasa bermanfaat bagi ayah dan ibunya. Demikian yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:
إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seseorang meninggal, terputuslah amalannya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Seorang anak yang tidak shalih tidak akan mendoakan kedua orang tuanya, pun tidak akan berbakti kepada mereka. Namun anak yang shalih itulah yang akan mendoakan ayah ibunya setelah mereka tiada. Oleh karena itulah, semestinya orang tua memiliki kemauan yang teramat besar agar putra-putri mereka memperoleh kebaikan, karena kebaikan itu akan kembali kepada anak-anak, juga kepada ayah bundanya dengan doa yang dimohonkan sang anak bagi mereka. (Syarh Riyadhush Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3/117)
Permohonan ampun bagi kedua orang tua yang terucap dari lisan sang anak akan meninggikan derajat mereka di akhirat. Demikian dikatakan oleh shahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
تُرْفَعُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ دَرَجَتُهُ، فَقِيْلَ: أَيْ رَبِّ! أَيُّ شَيْءٍ هَذِهِ؟ فَقِيْلَ: وَلَدُكَ اسْتَغْفَرَ لَكَ
“Diangkat derajat seseorang setelah matinya. Dia pun bertanya, “Wahai Rabbku, apakah ini?” Maka dikatakan, “Anakmu memohonkan ampun untukmu.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 27: Hasanul isnad)
Tak hanya itu, bakti seorang anak dapat terwujud tatkala dia mencintai orang yang dicintai oleh ayah dan ibunya beserta keluarganya.
Sebuah teladan yang tak layak untuk dilewatkan, dari seorang sahabat mulia, ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al Khaththab radhiallahu 'anhuma. Apabila beliau bepergian menuju Makkah, beliau biasa membawa keledainya untuk berkendara bila jenuh menunggang untanya. Beliau juga memiliki surban yang biasa beliau pakai untuk mengikat kepalanya. Suatu ketika, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu 'anhma sedang mengendarai keledainya. Tiba-tiba lewatlah seorang Arab gunung. Beliau bertanya pada orang itu, “Bukankah engkau anaknya Fulan bin Fulan?” Dia menjawab, “Benar.” Serta-merta Ibnu ‘Umar radhiallahu 'anhuma memberikan keledainya sembari berkata, “Naiklah!” Beliau juga memberikan surbannya dan mengatakan, “Ikat kepalamu dengan surban ini.” Melihat hal, sahabat-sahabat beliau pun berkata, “Semoga Allah mengampunimu. Mengapa engkau berikan kepada orang Arab gunung itu keledaimu yang biasa engkau kendarai serta surbanmu yang biasa engkau gunakan untuk mengikat kepalamu?” Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan:
إِنَّ مِنْ أَبَرِّ البِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ
“Di antara sebaik-baik bakti kepada orang tua adalah seseorang menyambung tali kekerabatan dengan keluarga orang yang dicintai ayahnya sepeninggalnya.”
Sesungguhnya ayah orang itu adalah teman ‘Umar radhiallahu 'anhu. (HR. Muslim no. 2552)
Demikianlah seorang Ibnu ‘Umar radhiallahu 'anhuma yang mendulang faidah dari perkataan agung Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini. Beliau muliakan orang Arab gunung itu karena ayah orang itu adalah teman ayahnya, ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu 'anhu. Bagaimana kiranya bila beliau bertemu seseorang yang berteman dengan ayahnya? Tentu beliau akan lebih dan lebih memuliakannya lagi.
Inilah kisah indah yang berbuah faidah, memberikan bimbingan untuk memuliakan seseorang yang dicintai oleh ayah atau ibu, karena ini termasuk bakti seorang anak kepada mereka berdua. Demikian pula dari kisah ini tampak keluasan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan meluaskan pintu bakti terhadap orang tua, tak hanya terbatas pada ayah ibu saja, namun hingga teman-teman mereka berdua. Apabila seorang anak berbuat baik pada mereka, berarti juga mereka berbakti kepada keduanya, serta beroleh pahala seorang yang berbakti kepada ayah bundanya. (Syarh Riyadhush Shalihin, 2/153)
Tidakkah ada keinginan dalam sanubari untuk menatap anak-anak tumbuh dalam keridhaan Rabb mereka, dengan membimbing mereka agar senantiasa berjalan dalam keridhaan ayah ibunya? Tidakkah ada ketakutan tatkala mengingat anak-anak terancam dengan kemurkaan Rabb mereka ketika membiarkan mereka berteman dengan kemurkaan orang tua?
Inilah sekelumit dari sekian banyak tuntunan itu. Tinggallah kesungguhan untuk mewujudkannya, agar harapan mereka bukan menjadi impian semata.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.



Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com


Desember 15, 2009

Larangan Berdusta

Dinukil dari kitab Riyadhus Shalihin lil Imam An Nawawi Rahimahullahu Ta’ala, dalam bab "tahrimu Kadziba (Larangan Berdusta)". Semoga bermanfaat.


Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (al-lsra’: 36)

Allah Ta’ala juga berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qaf: 18)

وعن ابن مسعود رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: <إن الصدق يهدي إلى البر وإن البر يهدي إلى الجنة، وإن الرجل ليصدق حتى يكتب عند اللَّه صدِّيقاً؛ وإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار، وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند اللَّه كذاباً> مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu katanya: "Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada surga dan sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata benar, sehingga dicatatlah ia di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan menunjukkan kepada keburukan dan sesungguhnya keburukan itu menunjukkan kepada neraka dan sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata dusta sehingga dicatatlah ia di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (Muttafaq ‘alaih)

وعن عبد اللَّه بن عمرو بن العاص رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قال: <أربع من كن فيه كان منافقاً خالصاً ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من نفاق حتى يدعها: إذا اؤتمن خان، وإذا حدث كذب، وإذا عاهد غدر، وإذا خاصم فجر> مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Empat macam perkara, barangsiapa dalam dirinya terdapat semua perkara itu, maka ia adalah seorang munafik tulen dan barangsiapa yang dalam dirinya terdapat salah satu daripada empat perkara tadi, maka ia telah memiliki satu macam sifat dari kemunafikan, sehingga ia meninggalkan sifat itu, yaitu: apabila ia dipercaya berkhianat, apabila berkata berdusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila bertengkar jahat kelakuannya." (Muttafaq ‘alaih)

وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قال: <من تحلم لحلم لم يره كلف أن يعقد بين شعيرتين ولن يفعل، ومن استمع إلى حديث قوم وهم له كارهون صب في أذنيه الآنك يوم القيامة، ومن صور صورة عذب وكلف أن ينفخ فيها الروح وليس بنافخ> رَوَاهُ البُخَارِيُّ.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam sabdanya, "Barangsiapa yang mengaku-aku bermimpi melihat sesuatu yang sebenarnya tidak dilihatnya dalam mimpi, maka ia akan dipaksa untuk mengikatkan dua biji syair, tetapi ia tidak kuasa untuk melakukannya dan barangsiapa yang menguping sesuatu kaum, sedangkan mereka benci kalau hal itu didengar olehnya, maka dituangkanlah di kedua telinganya itu timah yang cair pada hari kiamat. Juga barangsiapa yang menggambar sesuatu (makhluk hidup), maka ia akan disiksa dan dipaksa untuk meniupkan ruh di dalam gambarnya itu, sedangkan ia tidak kuasa meniupkan ruh di dalamnya." (Riwayat Bukhari)

وعن ابن عمر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما قال، قال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: <أفرى الفرى أن يري الرجل عيناه ما لم تريا> رَوَاهُ البُخَارِيُّ

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: "Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Seberat-berat dusta yang diperbuat ialah apabila seseorang itu mengaku bahwa kedua matanya melihat sesuatu padahal ia tidak melihatnya" (Riwayat Bukhari)

Para wanita mendapatkan apa di surga kelak?


Penulis: Fatawa al-jami'ah lil mar'atil muslimah

Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: "Pria mendapatkan istri-istri bidadari di Surga, lalu wanita mendapatkan apa?

Jawaban:
Para wanita akan mendapatkan pria ahli Surga, dan pria ahli Surga lebih afdhal dari pada bidadari. Pria yang paling baik ada di antara pria ahli Surga. Dengan demikian, bagian wanita di Surga bisa jadi lebih besar dan lebih banyak daripada bagian pria, dalam masalah pernikahan. Karena wanita di dunia juga (bersuami) mereka mempunyai beberapa suami di Surga. Bila wanita mempunyai 2 suami, ia diberi pilihan untuk memilih di antara keduanya, dan ia akan memilih yang paling baik dari keduanya

(Fatawa wa Durusul Haramil Makki, Syaikh Ibn Utsaimin 1/132, yang dinukil dalam Al-Fatawa Al-Jami'ah lil Mar'atil Muslimah, edisi bahasa Indonesia "Fatwa-fatwa tentang wanita")


Pertanyaan:
Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya: "Ketika saya membaca Al-Qur'an, saya mendapati banyak ayat-ayat yang memberi kabar gembira bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dari kaum laki-laki, dengan balasan bidadari yang cantik sekali. Adakah wanita mendapatkan ganti dari suaminya di akhirat, karena penjelasan tentang kenikmatan Surga senantiasa ditujukan kepada lelaki mukmin. Apakah wanita yang beriman kenimatannya lebih sedikit daripada lelaki mukmin?

Jawaban:
Tidak bisa disangsikan bahwa kenikmatan Surga sifatnya umum untuk laki-laki dan perempuan. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki ataupun perempuan" (Ali-Imran:195)

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik" (An-Nahl:97)

"Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita, sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun" (An-Nisa':124)

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar"(Al-Ahzab:35)

Allah telah menyebutkan bahwa mereka akan masuk Surga dalam firman-Nya: "Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan" (Yasin:56)

"Masuklah kamu ke dalam Surga, kamu dan istri-istri kamu digembirakan"(Az-Zukhruf:70)

Allah menyebutkan bahwa wanita akan diciptakan ulang.
"Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan" (Al-Waqi'ah: 35-36)

Maksudnya mengulangi penciptaan wanita-wanita tua dan menjadikan mereka perawan kembali, yang tua kembali muda. Telah disebutkan dalam suatu hadits bahwa wanita dunia mempunyai kelebihan atas bidadari karena ibadah dan ketaatan mereka. Para wanita yang beriman masuk Surga sebagaimana kaum lelaki. Jika wanita pernah menikah beberapa kali, dan ia masuk Surga bersama mereka, ia diberi hak untuk memilih salah satu di antara mereka, maka ia memilih yang paling bagus diantara mereka.

(Dinukil dari Fatawal Mar'ah 1/13, yang dikutip dalam Al-Fatawa Al-Jami'ah lil Mar'atil Muslimah, edisi bahasa Indonesia "Fatwa-fatwa tentang wanita". Syaikh Abdullah bin Jibrin saat ini (th 2003) sudah ditinggalkan oleh Ulama karena mengikuti Abul Fitan - Abul Hasan Al Mishri Al Ma'ribi, red)

Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya

Penulis : Ustadz Azhari Asri dan Redaksi.

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya :

“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)

“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :

“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)

Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga

Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?

Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.

Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :

1. Bertakwa.

2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.

4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.

5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.

6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.

7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.

8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.

9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.

10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.

11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).

13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.

14. Berbakti kepada kedua orang tua.

15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).

Wallahu A’lam Bis Shawab.

(Dikutip dari tulisan al ustadz Azhari Asri, judul asli Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya. MUSLIMAH XVII/1418/1997/Kajian Kali Ini)

[Sumber: Salafy.or.id Offline]


BANGKITLAH SAUDARAKU!!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasar hadits dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang unggul/menang hingga tiba pada mereka keputusan Allah, sedang mereka adalah orang-orang yang unggul/menang.” (Shahih Al-Bukhari, no. 7311)