بسم الله الرحمن الرحيم

Desember 24, 2009

Sepercik cahaya iman dari tetesaan Ilmu syar'i

Penulis : admin ahlussunnah Muna

Dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an, Allah ta’ala menganjurkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya. Allah ta’ala juga menjadikan agama terakhir ini sebagai risalah ilmu, pengetahuan, pemikiran, perenungan, dan risalah yang mengangkat kedudukan orang yang berilmu.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman (Artinya),
”Niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengangakat orang- orang yang beriman diantara kalian dan orang- orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS. Mujadilah : 11)
Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata,” Allah Subhanahu wa ta’ala mengangkat orang- orang yang diberi ilmu dikalangan orang- orang yang beriman beberapa derajat diatas orang- orang yang tidak diberi ilmu.”(Dalam Ad DurrulMantsur : 4/28)

Karena sebab inilah –dan juga sebab lainnya- ayat yang pertama kali turun dan disampaikan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah ayat yang menjelaskan keutamaan pena dan ilmu serta menjelaskan keberadaan ilmu sebagai nikmat yang amat besar yang di anugerahkan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada umat ini.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman(Artinya),
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq :1-5)

Dan banyak pula hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan keutamaan ilmu.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Jika ada suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah Subhanahu wa ta’ala. mereka mengambil dan mempelajari kitabullah diantara mereka,niscaya akan diturunkan ketenangan kepada mereka, para malaikat akan menaungi mereka, mereka akan diliputi rahmat, dan Allah Subhanahu wa ta’ala akan menyebut mereka dikalangan makhluk yang ada di sisi-Nya, dan barang siapa yang dilambatkan amalannya, maka ia tidak dipercepat oleh nasabnya.”(HR.Muslim)

Riwayat yang menerangkan keutamaan ilmu banyak sekali, namun ilmu yang dimaksud adalah ilmu syari’at yang mengajarkan apa saja yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf tentang urusan agamanya, baik berupa ibadah maupun mu’amalah.

Perkara menuntut ilmu dan mempelajari ilmu agama adalah perkara yang agung. Oleh karena itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ يُرِيْدِاللَّهُ بِهِ خًيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
"barang siapa yang Allah Subhanahu wa ta’ala kehendaki padanya kebaikan maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan pahamkan dia dalam agamanya.”(HR.Bukhari)

Hadits yang agung ini memberi petunjuk pada kita bahwa mempelajari ilmu agama adalah salah satu tanda bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala menginginkan kebaikan dirinya. Dari hadits ini dipahami pula bahwa orang yang tidak belajar ilmu agama maka dia telah dicampakkan dan tidak dikehendaki kebaikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka hendaknya setiap hamba yang menginginkan kebaikan mempunyai tekad yang kuat dan bersungguh- sungguh dalam memperolehnya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,”terhadap suatu kebaikan, bersemangatlah memperoleh apa yang bermamfaat bagimu serta minta tolonglah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan janganlah lemah.”(HR.Muslim)

Betapa indahnya nasihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya untuk bersungguh- sungguh mempelajari agama ini. Akankah kita abaikan nasihat yang amat berharga ini?ataukah memang Qolbu kita telah ditutupi oleh dosa dan kemaksiatan sehingga agama ini dijadikan sebagai label atau status dalam kehidupannya tampa ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menyilami lautan ilmu agama ini? Munkinkah tiap-tiap dari kita memikirkan agama ini hanya dalam sisa- sisa waktu kita saja??
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi renungan bagi kita sejauh mana kiprah kita di dalam agama ini. Hendaknya setiap diantara kita yang mengaku beragama islam memberikan motivasi pada setiap pribadi serta mengajak orang lain dalam mencari dan berkosentrasi dengan ilmu, bersabar, dan meneguhkan kesabaran dalam mencarinya.

Ketika menjelang wafat, Mu’adz Radhiallahu ‘anhu (dalam sebuah riwayat) mewasiatkan kepada orang- orang di sekitarnya untuk mencari ilmu seraya berkata, “sesungguhnya ilmu dan iman memiliki kedudukan. Barang siapa yang menginginkan, maka dia akan mendapat keduanya.”

Maksudnya, kedudukan keduanya sangat agung dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . akan tetapi, pada masa kita sekarang ini, di saat sangat sedikit ilmu dan ulama, telah muncul kelompok- kelompok yang mengenakan pakaian ulama dan mengaku sebagai pembawa bendera ilmu namun menebar racun di kalangan umat sehingga terjadilah kekacauan yang dapat kita saksikan dalam realita kehidupan kaum musliimin.

Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” sesungguhnya Allahtidaklah mencabut ilmu dengan serta merta dicabut dari Qolbu manusia. Namun Allah mencabutnya dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak tersisa seorang ulamapun, manusia akan mengambil pimpinan- pimpinan yang bodoh. Lalu pimpinan- pimpinan yang bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tampa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dalam shahih-nya)

Maka hal tersebut menjadi peringatan bagi kita akan pentingnya ilmu dalam berucap dan melakukan amalan dan anjuran untuk melakukan dengan ilmu .
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman(Artinya),
”dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggung jawabnya”.(QS.Al-Isra : 36)

Dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang ia tidak mencari kepastian apa yang ada di dalamnya, maka disebabkan hal itu ia dilemparkan kedalam neraka sejauh antara timur dan barat”. (HR. Bukhari- Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu)

Inilah perkara yang sesungguhnya ditakutkan. Orang- orang bodoh (yang tidak berilmu) tampil untuk berfatwa dan mengajar, sehingga merekapun sesat dan menyesatkan. Maka hal demikian menjadi pendorong bagi kita untuk maju dan bersungguh- sungguh mencari ilmu, terus- menerus belajar dan bersegera melakukannya, karena kebutuhan kita yang sangat terhadap ilmu serta untuk menutup celah yang digunakan oleh orang- orang yang mengatakan bahwa tidak tersisa seorang pun yang berilmu. Sehingga walaupun ilmu berkurang dan sebagian besar ulama wafat, namun alhamdulillah akan senantiasa ada sekelompok orang yang berada diatas kebenaran dan ditolong oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam ,
“Akan senantiasa ada sekolompok umatku yang berada di atas kebenaran dan mereka tertolong. Tidak akan menyusahkan mereka orang- orang yang mnyelisihi mereka dan orang- orang yang meninggalkan mereka, sampai datang keputusan Allah (hari kiamat).”

Seandainya seorang penuntut ilmu tidak dihormati di tengah- tengah manusia, hal tersebut tidak memberi madharat (kerugian) baginya, karena dia menuntut ilmu tidak untuk mendapatkan penghormatan. Dan menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada dirinya dan untuk mengeluarkan manusia dari kegelepan menuju kepada cahaya ilmu. Jika mereka menerima dan mengangkat kedudukannya, maka alhamdulillah (segala puji milik Allah). Dan jika tidak, dia tetap berada dalam kebaikan walaupun seandainya mereka membunuh dan menghinakannya, karena dia memiliki teladan pada diri para rasul dan pada diri penutup para nabi yaitu Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam . karena sesungguhnya seorang hamba yang menolong syari’at-Nya, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan menolongnya.

Syaikh bin Baz rahimahullahu berkata, “pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala bisa diperoleh dengan mengikuti syari’at-Nya dan bersabar dalam menjalankannya”.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
“wahai orang- orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah,niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”(QS.Muhammad : 7)

Demikianlah fakta yang pasti terjadi. Lantaran kekokohan iman, kebersihan akidah, ketulusan beramal shalih. Sepeti halnya bersungguh- sungguh dalam mencari ilmu. Allah Subhanahu wa ta’ala menampakkan janjinya.

Begitu terasa nikmat orang- orang yang bersungguh- sungguh dalam mempelajari agamanya. Jika semangat yang ada pada diri ini dibiarkan mengalir ketika mencari ilmu kepada para ahlinya, maka akan menuai amalan syar’i. Maka hendaklah setiap Muslim yang takut akan adzab Allah Subhanahu wa ta’ala memperhatikan ilmu yang ada pada dirinya sebelum ia berucap dan beramal.

Wahai saudaraku!!
Ini merupakan peringatan bagi kita untuk berhati- hati terhadap lisan yang tidak di dasari ilmu. Dan hendaknya ilmu tersebut membuahkan amalan sesuai dengan bimbingan syari’at

Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu berkata,” belajarlah, kemudian siapa yang telah mengetahui ilmu, hendaklah ia mengamalkannya.” (dalam Iqtidha’ Al ‘Ilmi Al Amal :11)
Salman Radhiallahu ‘anhu berkata,”jika ilmu telah tampak, sedangkan amalan telah tersimpan, lisan- lian dan hati telah berselisih, dan orang- orang telah memutus hubungan kekeluargaannya, maka saat itulah Allah Subhanahu wa ta’ala melaknat mereka, yaitu membuat mereka tuli, buta, dan bisu.” (dalam Az-Zuhd : 931)

Tidak mengamalkan ilmu menjadi sebab tidak bermamfaatnya ilmu tersebut. Sebaliknya mengamalkan ilmu merupakan salah satu sebab paling utama yang membantu sampainya hikmah ke dalam hati secara langsung. Serta begitu rendahnya kedudukan orang- orang yang tidak mengamalkan ilmunya.
‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu berkata,” wahai para pembawa ilmu, amalkanlah ilmu. Sesungguhnya yang dinamakan orang ‘alim adalah orang yang mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui dan amalnya sesuai dengan ilmunya. Nanti akan ada suatu kaum yang membawa ilmu, tetapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka. Batinnya berbeda dengan lahirnya dan amalnya tidak sesuai dengan ilmunya. Mereka duduk melingkar berkelompok- kelompok dan saling membanggakan satu dengan yang lainnya sampai- sampai ada di antara mereka yang marah kepada teman duduknya ketika temannya itu duduk bermajelis dengan orang lain dan meninggalkan dirinya. Amalan- amalan mereka di majelis- majelis itu tidak akan bisa naik menuju Allah Subhanahu wa ta’ala". (Diriwayatkan Ibnu ‘Abdil-Barr).

Merupakan suatu kenikmatan yang besar pada seorang hamba yang bersungguh-sungguh menyisihkan waktunya untuk mempelajari syari'at Allah Subhanahu wa ta’ala serta mengagungkan ilmu dalam qolbunya sehingga membuahkan amalan syar'i yang di cintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.


Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memilih kita sebagai hamba-hamba yang dicintai-nya dan mengkohkan diri ini diatas ilmu yang syar'i serta berusaha mengamalkan ilmu yang kita miliki.

Wallahu a'lam bish showab.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya diblog ini.
silahkan tinggalkan pesan dengan menjaga adab Islami. Jangan lupa menuliskan asal daerah anda.

BANGKITLAH SAUDARAKU!!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasar hadits dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang unggul/menang hingga tiba pada mereka keputusan Allah, sedang mereka adalah orang-orang yang unggul/menang.” (Shahih Al-Bukhari, no. 7311)